Desember 1996. Ayahku membalik tulisan ‘close’ di
depan restoran kecil kami menjadi ‘open’. Hari masih pagi.Hujan turun agak
deras, itu sebabnya belum ada pengunjung yang datang. Biasanya sih sudah ada
beberapa pekerja kantoran yang menunggu restoran kami buka. Mereka biasa
sarapan di sini.
“Udah selesai gambarnya,Dyn?”tanya Pak Hanan,koki di
restoran kami.
Aku tersenyum dan menggeleng pelan. Kuraih pastel
warna abu-abu untuk mewarnai langit gelap seperti suasana di luar.
Pintu restoran tiba-tiba terbuka.
“Selamat datang.”kataku otomatis, seperti yang
sering diajarkan ayah.
Aku tertegun.Seorang anak laki-laki seusiaku berdiri
di dekat pintu. Rambutnya awut-awutan. Bajunya basah dan sobek di sana-sini.
Baunya juga aneh, sepertinya dia jarang mandi. Anak itu melipat payungnya dan
menaruhnya di guci tempat penyimpanan.
Kak Linda, salah satu pegawai ayah mendekatinya.
“Pergi sana, kami……”
Tiba-tiba ayahku datang dan menepuk pundak Kak
Linda. Ayah berjongkok di depan si dekil.
“Kau mau makan apa,nak?”
Anak tadi hanya menunduk.
“Ya?”tanya Ayahku lagi.
“Dyna sini, kamu bawakan roti bakar ya…Lin,buatkan
teh manis juga”kata Ayah,lalu beliau menambahkan pada si dekil.”Ayo cari tempat
duduk yang kamu suka”.
Aku bergegas turun dan berlari ke dapur.
“Pak Hanan,roti bakar satu.”kataku
“Rasa apa,Dyn?”tanya Pak Hanan.
“Wah,ayah nggak bilang tuh. Campur aja pak,yang enak
ya…”
Pak Hanan mengangguk dan tersenyum. Aku berlari ke
luar dari dapur dan duduk untuk menyelesaikan gambarku.
Beberapa saat kemudian beberapa hidangan sudah siap
di depan si dekil . Dia makan dengan sangat lahap. Sepertinya dia sangat
kelaparan. Dia menghabiskan sepotong roti dengan sekali lahap.Ayahku duduk di
depannya. Memperhatikan sambil tersenyum.
“Sudah, Pak.Terima kasih banyak.”kata si dekil ketika
selesai makan. Dia menyodorkan beberapa buah uang receh kepada ayahku.
“Uang ini kamu tabung saja. Makanan tadi gratis
karena kamu pengunjung pertama,ya… gratis saja.”
“Gratis berarti tidak bayar?”tanyanya polos.
Ayahku mengangguk. Anak tadi tersenyum dan menyimpan
uang recehnya di bekas bungkus mi instan.
“Terima kasih banyak.’kata anak tadi sambil
tersenyum lebar. Tiba-tiba dia berjalan ke arah tempat sampah dan mengambil
sesuatu.
“Ini boleh untukku?”tanyanya padaku.
Benda yang diambilnya ternyata adalah
gambar-gambarku yang tidak kuselesaikan karena bosan.
“Boleh sih…tapi yang itu jelek dan kotor. Nih, yang
ini saja.”jawabku,kusodorkan gambar langit hujan yang baru saja
kuselesaikan.”Yang ini bagus.”
Anak tadi tersenyum padaku dan mengucapkan terima kasih.
Bertahun-tahun kemudian dia nggak pernah kelihatan lagi.
bersambung...
by : Lettuce
No comments:
Post a Comment